1. A.    APAKAH ILMU EKONOMI REGIONAL DAPAT DIANGGAP ILMU YANG BERDIRI SENDIRI?

Suatu ilmu atau cabang ilmu dapat dianggap berdiri sendiri, ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Pada satu sisi cabang ilmu memiliki kekhususan, yaitu sesuatu yang tidak dibahas dalam cabang ilmu lain, sedangkan pada lain sisi memiliki prinsip – prinsip yang utuh atau mampu memberikan solusi yang lengkap untuk bidang tertentu (bidang yang dicakupnya).

Samuelson  (1955) mengemukakan bahwa persoalan pokok ilmu ekonomi mencakup tiga hal utama.

  1. 1.      What commodities shall be produced and in what quantities (barang apa yang harus diproduksi dan berapa banyak). Hal ini bersangkutan paut dengan kekuatan permintaan dan penawaran yang ada dalam masyarakat.
  2. 2.      How shall goods be produced (bagaimana atau oleh siapa barang itu diproduksi). Hal ini bersangkut paut dengan pilihan teknologi untuk menghasilkan barang tersebut dan siapa saja yang berperan dalam menghasilkan barang tersebut dan apakah ada pengaturan dalam pembagian peran itu.
  3. 3.      For whom are goods to be produced ( untuk siapa atau bagaimana pembagian hasil dari kegiatan memproduksi barang tersebut). Hal ini bersangkut paut dengan pengatur sistem balas jasa, system perpajakan, subsidi, bantuan kepada fakir miskin, dan lain- lain.

Ketiga hal ini telah melandasi analisis ekonomi klasik.

Domar (1946), Harrod (1948), Solow (1956), Swan (1960), dan ekonom lain mencoba pula menjawab persoalan pokok yaitu :

  1. 4.       When do all those activities be carried out (kapan berbagai kegiatan tersebut dilaksanakan). Pertanyaan ini dijawab dengan menciptakan teori ekonomi dinamis (dynamic economic analysis) dengan memasukkan unsure waktu ke dalam analisis. Sejalan dengan itu, keluarlah teori – teori tentang pertumbuhan ekonomi (growth theories, seperti tahap – tahap pertumbuhan Rostow), business cycle, dan development planning.

Walaupun  perkembangan ekonomi sudah demikian pesatnya, tetapi ada beberapa pertanyaan penting yang belum dapat dijawab oleh para ahli ekonomi. Pada umumnya para ekonom secara implisit beranggapan bahwa prinsip – prinsip ekonomi telah digariskan, akan berlaku umum di seluruh tempat baik di kota maupun di desa, di daerah yang telah maju ataupun di daerah terbelakang. Akan tetapi, kenyataan menunjukkan bahwa kondisi tiap – tiap daerah tersebut tidak sama, ketersediaan prasarana tidak sama, keterampilan tenaga kerjanya tidak sama, kepadatan penduduk berebeda, atau harga tanah jauh berbeda. Dengan demikian, berbagai kebijakan ekonomi yang cocok di satu daerah belum tentu cocok di daerah lain. Misalnya, penentuan produksi yang optimum akan berbeda di berbagai tempat, tergantung pada kondisi ekonomi di sekitarnya. Jadi, hukum ekonomi yang telah lazim apabila diterapkan dengan memasukkan unsur tempat atau region, akan memunculkan beberapa masalah yang harus dijawab dengan teori khusus yang tidak tercakup di dalam ilmu ekonomi biasa. Untuk menjawab persoalan ini timbullah IER, yaitu dengan memasukkan unsur lokasi ke dalam ilmu ekonomi internasional (terdahulu).

Belakangan, hubungan antardaerah pun dianggap sebagai bahan pembahasan IER yang cukup menarik dan memunculkan implikasi kebijakan yang lebih mempercepat tercapainya tujuan ekonomi nasional. Jadi secara ringkas, persoalan utama yang dibahas dalam ekonomi regional adalah menjawab pertayaan sebagai berikut.

  1. 5.      Where do all those activities should be carried out (dimana lokasi dari berbagai kegiatan tersebut)

Jelaslah bahwa IER timbul untuk memecahkan masalah khusus yang terpaut pertanyaan dimana yang pada umumnya diabaikan dalam analisis ekonomi tradisional. Hal ini menyebabkan teori yang ditampilkan dalam IER juga berbeda dengan teori – teori yang muncul pada ekonomi terdahulu, walaupun istilah seperti demand, supply, MPC, growth, dan sebagainya masih tetap digunakan. Jadi, IER memiliki kekhususan yang tidak dibahas oleh cabang ilmu lain dan memiliki prinsip yang mampu menjelaskan bidang tersebut secara menyeluruh sehingga dapat dianggap berdiri sendiri.

Perlu dijelaskan bahwa untuk tiap pertanyaan di atas perlu dilengkapi dengan pertanyaan why, yaitu mengapa hal itu perlu dilakukan. Jadi, setiap tindakan atau pilihan perlu disertai dengan alasan mengapa hal itu menjadi pilihan. Dengan demikian, lengkaplah IER itu adalah untuk menjawab pertanyaan where and why. Tujuan utama IER adalah menjawab pertanyaan di wilayah mana suatu kegiatan sebaiknya dipilih dan mengapa bagian wilayah itu menjadi pilihan. Namun, perlu dicatat bahwa dalam menentukan lokasi maka IER hanya mampu menunjuk (memberi arahan) sampai batas di wilayah mana (atau di bagian wilayah mana), tetapi tidak sampai menunjuk kepada tempat kegiatan. Untuk sampai ke sana dibutuhkan bantuan ilmu lain, seperti ilmu kesesuaian lahan/daya dukung lahan, teknik sipil, atau teknik arsitektur.